Sebagai seorang Social Media Manager, menjaga konsistensi tone of voice brand di setiap konten adalah hal yang krusial. Namun, ketika menggunakan beragam tools AI kayak Chatgpt, Claude atau bahkan Deepseek untuk membantu pembuatan konten, sering kali hasil awalnya belum sesuai ekspektasi.AI will not replace jobs, but it will change nature of work - Kai-Fu Lee
Terus...apakah ini berarti tools AI itu tidak bisa digunakan? Tentu tidak! Justru, dengan pelatihan yang tepat, beragam tools AI itu bisa menjadi alat yang sangat powerful untuk mempercepat dan menyempurnakan proses pembuatan konten.
Jadi ini cerita tentang gimana caranya memaksimalkan prompting dalam pembuatan konten.
1. Jangan Langsung Menyerah! Tools AI Perlu Dilatih.
Bayangkan kamu baru membeli lemari dari Ikea. Setelah berjam-jam mencoba merakitnya, ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Apakah kamu langsung membuangnya? Enggak, kan? Kamu akan mencoba memahami instruksinya lagi, mencari tahu di mana kesalahannya, dan memperbaikinya.
Hal yang sama berlaku saat kamu menggunakan Chatgpt, Claude, Deepseek atau tools AI lainnya untuk menciptakan tone of voice brand di media sosial. Hasil awal mungkin kurang sesuai, tetapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki.
Bayangkan kamu baru membeli lemari dari Ikea. Setelah berjam-jam mencoba merakitnya, ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Apakah kamu langsung membuangnya? Enggak, kan? Kamu akan mencoba memahami instruksinya lagi, mencari tahu di mana kesalahannya, dan memperbaikinya.
Hal yang sama berlaku saat kamu menggunakan Chatgpt, Claude, Deepseek atau tools AI lainnya untuk menciptakan tone of voice brand di media sosial. Hasil awal mungkin kurang sesuai, tetapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki.
Seperti halnya mengajari anggota tim baru, AI juga perlu mendapatkan arahan, feedback, dan iterasi agar bisa menghasilkan konten yang lebih sesuai dengan brand kamu.
PRO TIPS CARA LATIH CHATGPT DKK.
Ketika pertama kali menggunakan AI untuk menulis caption atau copywriting, hasilnya mungkin hanya mendekati 60-80% dari ekspektasi.
Ketika pertama kali menggunakan AI untuk menulis caption atau copywriting, hasilnya mungkin hanya mendekati 60-80% dari ekspektasi.
Namun, dengan feedback yang tepat, akurasi AI bisa meningkat hingga lebih dari 95%. Berikut adalah langkah-langkahnya:
1. Uji Coba Offline: Berikan AI contoh konten yang sudah ada dan lihat bagaimana AI memahami tone of voice brand.
2. Evaluasi & Feedback: Identifikasi bagian mana yang kurang sesuai dan berikan catatan spesifik. Misalnya, "Terlalu formal, coba gunakan bahasa yang lebih santai."
3. Iterasi & Refinement: Setelah memberikan feedback, coba lagi dengan revisi yang lebih baik.
4. Uji Coba Online: Jika hasilnya sudah mendekati harapan, mulai gunakan AI dalam skenario nyata, misalnya untuk caption Instagram atau Twitter.
5. Monitor & Review: Periksa performa konten dan sesuaikan AI agar semakin presisi dengan gaya brand.
Contohnya nih....misalkan kamu menangani akun media sosial untuk brand fashion yang memiliki tone of voice santai dan youthful. Kalau kamu generated caption di chatgpt dkk, hasilnya mungkin seperti ini:
1. Uji Coba Offline: Berikan AI contoh konten yang sudah ada dan lihat bagaimana AI memahami tone of voice brand.
2. Evaluasi & Feedback: Identifikasi bagian mana yang kurang sesuai dan berikan catatan spesifik. Misalnya, "Terlalu formal, coba gunakan bahasa yang lebih santai."
3. Iterasi & Refinement: Setelah memberikan feedback, coba lagi dengan revisi yang lebih baik.
4. Uji Coba Online: Jika hasilnya sudah mendekati harapan, mulai gunakan AI dalam skenario nyata, misalnya untuk caption Instagram atau Twitter.
5. Monitor & Review: Periksa performa konten dan sesuaikan AI agar semakin presisi dengan gaya brand.
Contohnya nih....misalkan kamu menangani akun media sosial untuk brand fashion yang memiliki tone of voice santai dan youthful. Kalau kamu generated caption di chatgpt dkk, hasilnya mungkin seperti ini:
Nah, kalo kamu pengen tingkatkan hasilnya, maka kamu bisa memberikan feedback seperti:
✅ "Gunakan bahasa yang lebih santai."
✅ "Tambahkan emoji agar lebih engaging."
✅ "Buat lebih pendek dan catchy."
Setelah beberapa iterasi, AI bisa menghasilkan sesuatu seperti:
"🔥Koleksi musim panas sudah hadir! Jangan sampai kehabisan—cek sekarang! ✨"
Perbedaan kecil ini bisa meningkatkan engagement dan membuat konten terasa lebih otentik sesuai dengan brand.
✅ "Gunakan bahasa yang lebih santai."
✅ "Tambahkan emoji agar lebih engaging."
✅ "Buat lebih pendek dan catchy."
Setelah beberapa iterasi, AI bisa menghasilkan sesuatu seperti:
"🔥Koleksi musim panas sudah hadir! Jangan sampai kehabisan—cek sekarang! ✨"
Perbedaan kecil ini bisa meningkatkan engagement dan membuat konten terasa lebih otentik sesuai dengan brand.
Tips Memberikan Feedback yang Efektif untuk AI
Agar Chatgpt dkk semakin akurat dalam memahami tone of voice brand, berikan feedback yang jelas dan spesifik. Hindari komentar seperti: "Terlalu kaku, coba diperbaiki."
Sebaliknya, gunakan feedback seperti:
✅ "Terlalu kaku, coba gunakan bahasa yang lebih santai dengan kalimat yang lebih pendek."
✅ "Tambahkan humor ringan agar lebih engaging."
✅ "Gunakan lebih banyak kata-kata yang berhubungan dengan gaya hidup anak muda."
Dengan cara ini, Chatgpt dkk dapat lebih cepat memahami gaya komunikasi brand kamu.
Melatih Chatgpt dkk untuk memahami tone of voice brand di media sosial bukanlah proses instan, tetapi hasilnya bisa sangat membantu produktivitas dan konsistensi konten. Dengan strategi yang tepat, kamu bisa menciptakan sistem chatbox yang benar-benar memahami karakter brand dan membantu kamu bekerja lebih efisien.
Kamu udah pernah ngelakuin ini gak?
Gimana biasanya kamu pakai Chatgpt untuk kebutuhan kontenmu?
Komentar
Posting Komentar